Selasa, Februari 06, 2007
















Sebuah Karya
Yusuf Fansuri

FEBRUARI


i)
bulan mawar

bulan penawar


ii)

bulan kasih

bulan pedih


iii)

bulan janji

bulan mati




Isnin, Januari 15, 2007
















sebuah karya
Yusuf Fansuri
PADA MASA SEBENARNYA AKU MERINDUIMU

jauh adalah
jarak waktu
yang rindu

di puncak
aku terlontar
melihat dengan
segala kebesaran
ke tengah
biru lautan

fikiran berlayar
mencari wajahmu
di persisir pantai

di saat ini
aku temui hanya
cebis-cebis kenangan

hanyut di arus
bersama buih-buih
yang tiba-tiba hilang.

Jumaat, Januari 12, 2007





















sebuah karya
Yusuf Fansuri
PADA DETIK AKU CUBA MELAFAZKAN...

gemuruh ini tak bisa terbendung
dan gementar seiring degup jantung

kucuba tenteramkan gendang debar
agar rentak kata tak tersasar rasa

O wangi, dengarlah sepenuh hati
tulus ini bukan erti berbelah bahagi

pada detik aku cuba melafazkan
karam aku dipulas gelombang jiwa

sungguh mencintaimu aku lebih
dari apa yang sepatutnya kautahu!

Khamis, Januari 11, 2007
















sebuah karya
Yusuf Fansuri
PADA SAAT BAGAIMANA HARUS KUMULA

sering debar tak tertanggung
denyut nadi terhenti acapkali

bibir ini tak bisa berbicara
walau hanya sepatah kata

O puspa, tatkala kutatap wajah seri
tak bisa aku berbohong pada hati

meski berulangkali bersilat nafi
ternyata cinta memihak runtunan jiwa

pada saat bagaimana harus kumula
aku seorang lelaki yang hilang raga

Khamis, Januari 04, 2007















sebuah karya
Yusuf Fansuri
PADA WAKTU PERPISAHAN TERLALU DEKAT
- untuk pharohakim & za'aba

daun-daun gugur perlahan
lewat disember menderu
basah musim gelisah

rumput hijau merunduk
dan titis hujan bagai debu
dihembus angin dingin

berdiri ditepi tingkap usia
memandang cuaca cemburu
nurani ditenggelami banjir sayu

tatkala memilih 'tuk menulis
sebuah sajak menterjemah rasa
mengapa harus memihak

pada waktu perpisahan
sudah terlalu dekat
lebih merelakan aku
sebuah pemergian

sukarnya kupertahan
dengan kudrat sedaya
cuba untuk tak menguris
setiap inci hati yang dicintai


meski sukar dimengerti
tindak tak menuntut hak
kerana harus lebih percaya
sang pencinta tak harus meminta

O Puspa...
penyerahan ini sepenuhnya
kerana kunci segala rahsia
adalah pasrah menyerah
yang bukan cuba mengalah!

Selasa, Januari 02, 2007

















Sebuah Karya
Yusuf Fansuri

WALAU

- "cinta adalah kepedihan yang tak kenal ampun"
Fariduddin Attar

pada waktu

aku bukanlah terbaik

kerana pilihan menuntut

sekelip jawapan mungkin


sukarnya untuk aku
melepaskanmu mudah
dari erat dakap hasrat


namun pasti, segala

kau bukan milikku

walau bulan bisa

terbelah dua


saat ini aku

jadi bisu tatkala

kutuliskan sebuah takdir

di kertas perpisahan!

Jumaat, Disember 29, 2006












sebuah karya
Yusuf Fansuri

KERANA WANGINYA PUSPA


aku hadir tatkala

matahari takdir

melabuhkan

hijab senja


perjalanan jauh

usia merentas

impi mengalas

diuji seringkali


nah! ditamanmu

aku singgah sebentar

menumpang pasrah

sesekali disergah

kumbang kenangan


aku kembali

ke lamanmu kali ini

kerana wanginya puspa

harum yang membunuh

setiap sang pencinta


diribaanmu aku

memilih untuk terus percaya

rasa kasih tak pernah berdalih

jika soal setia jadi timbang tara!





















sebuah karya
Yusuf Fansuri
TUBUH-TUBUH BERCINTA


(i) bulan
Memanah

Bulan biru
Nun jauh

Agar jatuh
Ke erat dakap !

(ii) busur
Tancap busurmu

Membenam
DALAM
Rasa.

Ini tubuh
Menggeletar di segenap
saraf.
Jiwa kulebur!
Olehmu!

(iii) tulus
MenCINTAimu

Adalah tulus

Memilikimu
Adalah hasrat

Memelukmu
Adalah jiwa

(iv) luluh
Ayu sinar matamu

Menerjah dada
Terbakar rindu

Manis senyummu
Mengusik hati
Terpaku lidah

Lembut tuturmu
Menusuk jiwa
Luluh CINTAku!

(v) matahatiku
Kamu!


Adalah matahatiku
Saat cermin CINTA mula kabur

Di antara pudar sepi yang berbekas
Curiga rasa yang panjang
Pada segala kejadian
Sang perempuan.

(vi) sesuatu
Sesuatu yang tak terucap
Bukan dusta kata
Sesuatu yang tak terluah
Bukan dendam lama
Sesuatu yang tak terungkap
Bukan cuba berpura
Sesuatu adalah
Rahsia kehilangan
Kata-kata sang penCINTA.

(vii) penawar
Bisa racun

CINTAmu
Penawar pedih
1,000,000
Luka berahiku!

(viii) setelah itu
Setelah itu
Aku tak pernah melafaz
Janji
Setelah itu
Aku tak pernah melafaz
Dusta
Setelah itu
Aku tak pernah melafaz
Sumpah
Setelah itu
Aku
Lemas di laut CINTA!

(viiii) hanya kamu
Hanya kamu

Kamu hanya
Dan
Hanya kamu
Kamu hanya
Kamu
Selamanya aku CINTA !

(ix) sebuah cinta
ini puisi‘tuk

sebuah
nama ini puisi‘tuk
sebuah
kasih ini puisi‘tuk
sebuah
sayang ini puisi‘tuk
sebuah
CINTA ini puisi‘tuk sebuah
abadi!

Khamis, Disember 28, 2006












Sebuah Karya
Yusuf Fansuri

INGIN SEDANG


membasuh

sayapku

patah berdarah

setelah meredah

resah angin


merah gelisah

mengalir ke

dasar tasik

nubari


dingin air bening
bukan penawar
mujarab ubat

lara luka


O kekasih

demi kasih ini

hati tak pernah

terbelah dua


meski acapkali

dipanah kecewa

seringkali rasa

ingin sedang

bercinta!





















Sebuah Karya
Yusuf Fansuri
DI PUNCAK NYALA


tahu aku
hangatnya api

bermain aku
panasnya bara

rentung aku
sayapnya cinta

terbakar aku
dijilat nyala!














Sebuah Karya
Yusuf Fansuri
INGAT AKU TAHU

mudahnya aku
menerima tanpa
segala soal apa
tiapkali menjelma

ingat aku tahu
tentang jagat dunia
tentang gelagat
manusia

sukarnya aku
menerima bahawa
aku sebenarnya
tidak tahu apa-apa!

Rabu, Disember 27, 2006






















Sebuah Karya
Yusuf Fansuri

PERLUKAH KAU MENUNGGU BEGITU LAMA?


saat kupu-kupu kembali

tak pernah bertanya aku

entah berapa lama jarak

persinggahan ingin


segala curiga aku tawar bisa

segala sangsi aku patahkan taji


hadirmu aku sambut dengan santap madu

meski tiapkali kauminggir tinggalkan cebis debu


saat kupu-kupu pergi

aku tak pernah bertanya

entah berapa lama akan

kausinggah di ranting ini?

Isnin, Disember 25, 2006






















Sebuah Karya
Yusuf Fansuri
SERAT JANJI

basah disember lewat

dingin dadaku sebak

bagai mengerti

nestapa ini



memang tak pernah
rasa sejujurnya untuk
menduakan piala cinta


aku pertahan cuba
segala sangsi mengapi
dan curiga kian membara

sukar aku lepaskan
pergimu tanpa kata
sunyi tanpa penjelasan


dan tak mungkin
takdir menyebelahi
tatkala serat janji

terputus jua akhirnya

Ahad, Disember 24, 2006





















sebuah karya
Yusuf Fansuri

SEGALANYA SEBUAH HASRAT

saat kulafazkan tiap kata
sedaya ingin tak berdusta

kerana kutahu curigamu
seperti pisau tajamnya

tak pernah mendua rasa
usah diukur dasar setia

cinta ini sukar dimengerti
segalanya hasrat
peribadi

namun jangan mudah menggilap alpa
sebelum cinta bisa terpadam apinya!






Khamis, Disember 21, 2006
















Sebuah karya
Yusuf Fansuri
MENGINGATIMU

debar hati
tiapkali terkenang
saat terindah
seketika

kenangan berlari
dikejar gerimis hujan
masih lagi basah
dalam ingatan

dingin pipimu
harumnya kekal
di sanubari dalam

tika begini sepi
segalanya tercipta
seperti mimpi kaca
menunggu pecahnya!

Rabu, Disember 20, 2006





















sebuah karya
Yusuf Fansuri
HUJAN TELAH

dalam pelukan sayap
cuba membalut dingin

memerhati rintik hujan
berlari antara batu-batu

basah meresap rasa
sunyi mula bernadi

hujan telah mencumbu
setiap ruang waktu

di puncak sepi
rindukan matahari!










sebuah karya
Yusuf Fansuri
LAGI SEKALI


tak mudah
untuk membaca
takdir suratan

seringkali
silap berulang
tanpa sebab

tiap tafsir
punya makna
berbeda tiapkali
buku dibuka

apa yang hadir
harus diterima
tanpa curiga rasa

lagi sekali
hidup adalah
sebuah kuliah
yang tak sudah.














Sebuah karya
Yusuf Fansuri
SEEKOR KUPU-KUPU

kautinggalkan debu
singgah
seringkali
meski
acapkali
aku jamu secicip madu!

Isnin, Disember 18, 2006





















sebuah karya
Yusuf Fansuri
PENULIS CINTA
- untuk pharohakim


mencalit putih kertas
pena membelah kata
antara pekat dakwat
cinta jadi bunga-bunga
berterbangan si rama-rama
berkicaulah margasatwa
berahilah sang kumbang
alam pun merdeka
malaikat pun alpa!

antara komen daripada sdr Roslan Jomel yang dipetik dari laman sastera_sarawak

Salam kepada sdr Yusuf,


Menulis puisi pendek yang baik kesatuan struktur dalamannya sesukar
menulis puisi panjang yang kukuh penjelasan dalamannya. Baris
pertama hingga ke baris ke empat berdesing penuh ke telinga artistik
saya, sehinggakan boleh dibaca sambil memejamkan mata kerana
kehalusan dan kekuatan diksinya. Baris ke lima hingga ke baris ke
tujuh pula, melintang jauh daripada rasa keasyikan saya sebagai
pembaca, tetapi pada baris ke lapan dan ke sembilannya, saya kembali
dipenuhkan oleh pemilihan diksi saudara yang sememangnya berbakat
memendekkan puisi dengan kepadatan.



















sebuah karya
Yusuf Fansuri
JARAK CURANG
- untuk armizanila

jauh bukannya halangan
untuk pohon cinta tumbuh
sesegar pagi dipanah matahari

jurang bukannya penentu
untuk daun bisa jatuh
ke riba tanah tanpa malu

jarak bukannya pemisah
untuk mengukur kukuh
sebuah mahligai cinta

curang bukannya lambang
rapuhnya tiang seri setia
jika pasaknya terpaut waja!



















sebuah karya
Yusuf Fansuri
SARAT
- untuk sajalimohamad

berdiri di hadapanmu
menghadap penuh harap
mengadu ratap syahdu

aku tanggalkan setiap
jubah dunia kelabu
disisimu sang kekasih

O sayang, terimalah
penyerahan tanpa paksa
segenap berserah jiwa

bukalah rahsia hijabmu
untuk ini hamba masuk
membawa sarat nestapa

O sayang, berilah aku
seteguk anggur cinta
untuk penawar dukalara!











Sebuah karya
Yusuf Fansuri
JEMALA CINTA
- untuk zachmanan

menyelinap sunyi
dalam setiap hati

lahir di antara debar
subur di antara jiwa

anugerah tak ternilai
nikmat tak terungkai

rasa sejuta rahsia
cinta di puncak jemala!

Sabtu, Disember 16, 2006




















Sebuah Sajak
Yusuf Fansuri

Apa aku lakukan tika tiba dipintuMu?
Jangan tanya pasti aku tak bagi tahu!


setiap getar & debar
sukmaku
pabila terkenangkan Mu
pasti aku banjir
dalam airmata!


Akhir Ramadhan 1421.












Sebuah Sajak Yusuf Fansuri
CINTA SI PEMAIN PEDANG

entah berapa kali
ingin aku tinggalkan
medan permainan ini


namun tak terdaya
menawan kudrat

cuba mengelak
setiap gerak
cuba menepis bijak
helah angin

parut aku masih
belum sembuh
darah ditubuh
belum dibasuh

entah sampai bila
aku harus tega

mengasah pedang cinta

yang sesekali hampir

meragut nyawa?

Khamis, Disember 14, 2006











Sebuah Sajak Yusuf Fansuri
ANTARA NAFAS HELA
- Untuk Niya

sukarnya aku tafsir
makna tak terucap
dari basah bibirmu

menerka cuba
setiap patah kata
dalam debar penuh

O sayangku…
aku tak bisa pertahan
segala rusuh melanda

sering tanda tanya
tanpa butir jawapan
resah selubung rasa

antara nafas hela
hembusan cintamu
gusarkan segenap jiwa!

Selasa, Disember 12, 2006















Sebuah Sajak Yusuf Fansuri

MENCINTAI RASA


bukan

menuntut cuba

sungguh sukar
aku zahirkan

gemuruh rasa


bukan juga

memaksa cuba

mendamba ingin

sepenuh hati

hasrat ini


bukan pula

niat berdusta

kerana CINTA

lebih pada
percaya


maafkan aku

kerana mencintaimu

terlalu!

Isnin, Disember 11, 2006













Sebuah Sajak Yusuf Fansuri
SEKETIKA BIARPUN

gelisah ini
sukar kutawar
dengan kelopak
senyum pura
di bibir cuma

hasrat ini
sukar aku bohongi
dengan gerak laku
sembunyi kuku
dicelah jari-jari

wajahmu
tak bisa kuusir
dari taman hati
setelah jejak
berbekas jadi

senyummu
tak bisa kulupa
saat busur terpanah
di dadaku terluka
berdarah cinta

rindu ini
sukar kusisih
dari setiap lembar
memori pantas berlari

hati ini
sukar kuubati
demi ingin rasa
memilikimu biarpun
seketika cuma!

Ahad, Disember 10, 2006


Sebuah Sajak Yusuf Fansuri
T'LAH

‘ntah berapa kali
tertusuk nadi

belati menghiris

ulu hati,

namun masih jua

bermain senjata
cuba
sang wira buta!














Sebuah Sajak Yusuf Fansuri
SESAAT

aku cuba
hadir seketika
menggilap piala

demi ini rasa
dusta aku
tak berdaya

demi ini cinta
sesaat tak pernah
berpaling aku
padamu

demi ini hidup
sedetik tak pernah
aku percaya
pada logika

aku mengerti lebih
tak akan aku pinta
apa yang bukan
aku empunya

Jumaat, November 24, 2006











Sebuah Sajak Yusuf Fansuri
GENDERANG PERANG

harum tubuhmu
meresap aroma segala
genderang perang
merusuh dada