
Sebuah Sajak Yusuf Fansuri
JAUH DEKAT
Menelusuri jalan
kita lalui pernah
kenangan memintas
di setiap simpang
ingatan
Resah hati
memulas rindu
wajahmu bersayap
hinggap di setiap
ranting minda
Jam berdetik
lambat terlalu
waktu bangkit
membunuh aku!
Sebuah Sajak Yusuf Fansuri
KEDUA YANG PERTAMA
Untuk NIYA
aku pertahan
di
taruhan jiwa
hati aku
debar zulaikha
tatkala menatap
wajahmu
di tangan luka
tak terasa
dihiris tajam
mata cinta
aku tempah seksa
demi rasa dekat
padamu
pada aku biarpun
sejengkal cuma
sedetik bertakhta
kedua yang pertama!
Mereka kata
cinta pertama terpenting paling.
Ia cukup romantik
tapi tidak pada aku.
Tangan aku tak gementar
tatkala tersua hadiah kecilmu
atau warkah-warkah lama berpintal ikat
− bukan pula reben.
Satu-satunya pertemuan lewat ini tahun
adalah perbualan antara dua kerusi
di meja dingin.
di dalam aku masih bernafas.
Yang ini hilang udara ‘tuk mengeluh.
Tapi masih, seperti dahulu lagi
mampu buat sesuatu orang lain masih belum tentu:
tak bisa diingati
tak bisa diimpi
membunuh aku mati!